3 Sosok Perempuan Idaman yang Layak Ditiru Istri Pejabat

3 Sosok Perempuan Idaman yang Layak Ditiru Istri Pejabat

lakilakibaru.or.id

Sebelum tren model hijab semarak seperti sekarang, perempuan di keluarga saya dulu merasakan demam potongan rambut Putri Diana dari Inggris. Potongan rambut pendek yang menjadi ciri khas istri pertama Pangeran Charles ini sempat booming tahun 90-an.

Kini, Kate Middleton, menantunya Putri Diana, juga dielu-elukan karena kecantikan dan seleranya dalam berbusana. Sosok istri Adipati Cambridge yang selalu terlihat anggun itu banyak ditiru.

Karena penampilannya, Middleton berhasil menyabet beberapa penghargaan, seperti kostum terbaik versi majalah People pada 2010 dan Top Fashion Buzzword of the 2011 dari Global Language Monitor.

Dari Inggris kita terbang ke Amerika. Belakangan, istri Donald Trump, Melania Trump – yang mantan seorang model – juga digandrungi warga dunia karena parasnya. Banyak perempuan ingin memiliki bibir dan pinggul ala Melania. Tidak sedikit yang memilih operasi untuk menirunya.

Sebelum Melania, ada Michelle Obama yang penampilannya tak kalah seksi dan anggun. Pemilihan warna dan model busana yang pas diselaraskan dengan tubuh yang proporsional, juga warna kulit yang eksotis, turut menambah citra anggunnya.

Di dua negara adikuasa itu, sosok atau figur ibu negaranya memang identik dengan penampilan yang menarik. Ibu Negara di Indonesia tidak begitu diperbincangkan, karena mungkin penampilannya tidak begitu mencolok.

Namun, tidak kalah heboh dibanding rumor istri presiden yang harus menarik dan berparas cantik, belakangan para istri pejabat di Indonesia – terutama di daerah – banyak dibahas oleh para netizen. Ada Aprilani Yustin Ficardo, istri Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo, yang terkenal karena kecantikannya.

Ada pula istri Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Atalia Praratya Kamil, Ratu Bandung yang digandrungi karena fashion dan gayanya yang modis. Arumi Bachsin, artis ibu kota, yang memilih menikah muda dengan Emil Dardak yang menjadi bupati Trenggalek, juga terkenal cantik karena wajah indonya.

Selain sederet nama-nama istri pejabat di Indonesia yang populer berkat kecantikan dan penampilannya itu, kita sebetulnya pernah memiliki sosok-sosok perempuan – istri pejabat juga – yang perilaku dan gaya hidupnya bisa ditiru, terutama oleh kalangan istri pejabat saat ini.

Fatma, Ibu Negara yang Sederhana

Pada awal kemunculannya sebagai istri Soekarno, Fatmawati pernah dipandang sebelah mata oleh para perempuan yang bergabung di partai dan organisasi. Sebab, Fatma tidak memiliki pengalaman berorganisasi.

Seperti yang digambarkan dalam buku otobiografi berjudul ‘Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno’, Fatma tetap bertahan dan berusaha menyesuaikan diri dengan hidup barunya bersama Soekarno.

Sebelum akhirnya menjadi Ibu Negara Pertama Indonesia paska proklamasi 17 Agustus 1945, Fatma sempat menjahit bendera merah putih yang dikibarkan di halaman rumah Soekarno dan Fatma. Sosok Fatma tak hanya dikenang karena menjahit, tapi karena pribadinya yang bersahaja.

Sikap Fatma sebagai Ibu Negara yang memilih hidup sederhana ini dituangkan Arifin Suryo Nugroho dalam karyanya berjudul ‘Fatmawati Sukarno: The First Lady’. Fatma yang juga pandai menari dan memiliki suara bagus itu bahkan selalu tampil sederhana dengan kerudung yang diselendangkan di atas kepala.

Aksesoris atau perhiasan yang dikenakan Fatma pun hanya perhiasan yang terbuat dari perak bakar. Tidak pernah ada perhiasan emas yang Fatma pakai, karena memang memang Ibu Negara satu ini tidak memiliki perhiasan mahal tersebut.

Mengenai pribadinya itu, Fatma berpendapat, “Pokoknya Ibu Negara harus memberikan contoh dalam segala hal, baik bersikap maupun bertingkah laku. Dalam hal berpakaian maupun berhias diri harus sederhana,” ungkap Fatma dalam otobiografinya.

Yuke, yang Tegas dan Disiplin

Rahmi Hatta, istri Mohammad Hatta, yang sering dipanggil Yuke ini tidak kalah tegas dan keras sikapnya dengan Bung Hatta. Berpakaian rapih, tepat waktu dalam melaksanakan rutinitas, atau sekadar memakai sendok, garpu, dan pisau dengan benar di meja makan merupakan pribadi Yuke.

Setelah resmi menjadi pasangan suami dan istri yang diresmikan di Megamendung pada 18 November 1945, pasangan ini dikaruniai tiga orang putri. Meski seorang yang disiplin, Yuke sangat demokratis pada tiga putrinya.

“Ibu, membebaskan minat kami, namun untuk gaya hidup yang disiplin, ibu terlebih dahulu mencontohkan dengan pribadinya sehari-hari, sehingga kami menirunya,” ungkap Meutia dalam sebuah wawancara untuk penelitian skripsi saya.

Yuke yang memiliki latar belakang pendidikan dasar sampai menengah di lembaga pendidikan ala Belanda, berimbas pada pola didikan kepada ketiga putrinya. Alumni Europeesche Lagere School (ELS), Het Christelijk Lyceum (HCL), dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) ini, mengarahkan pendidikan formal tiga putrinya ke lembaga yang sama.

Yuke keukeuh ingin menyekolahkan tiga putrinya di sekolah Kristen agar lebih disiplin. Namun, di rumah, tiga putrinya dibebaskan untuk memilih kegemaran masing-masing, seperti menari, beladiri, dan bermain alat musik.

Menurut pengakuan Meutia, putri sulung Yuke dan Bung Hatta, yang juga tertera di buku ‘Seratus Tahun Bung Hatta’, dijelaskan bahwa Yuke dan Bung Hatta sempat berdebat untuk menyekolahkan ketiga putri mereka di sekolah Kristen.

Bung Hatta yang memiliki latar belakang agama Islam yang kuat sedari kecil tentu tidak sepakat dengan usulan Yuke. Namun, dengan tegas, Yuke berkeras agar tiga putrinya disekolahkan di sekolah Kristen, karena lebih disiplin dibanding sekolah negeri. Akhirnya mereka sepakat untuk menyekolahkan tiga putrinya di sekolah Kristen hingga lulus SMA.

Setelah kehilangan Bung Hatta pada 14 Maret 1980, Yuke mengurus tiga putrinya sendiri yang beberapa bahkan sudah berumahtangga. Dalam keadaan berkabung, Yuke berpesan pada keluarganya, “Yang kita miliki saat ini hanya nama baik, maka jaga itu,” tegas Yuke.

Poppy, Aktivis dan Intelektual Kritis

Memiliki pengalaman organisasi semenjak kuliah, Siti Wahyunah, akrab dipanggil Poppy adalah aktivis pergerakan mahasiswa. Poppy menjadi ketua Indonesische Vrouwelijke Studenten Vereniging (IVSV) selama satu tahun pada 1940-1941.

Poppy mengambil jurusan hukum di Rechtshoogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Sebelum lulus, Poppy yang direkomendasikan oleh sang kakak, Soedjatmoko, menjadi sekretaris Sutan Sjahrir di kantor Perdana Menteri.

Belum puas menjadi alumni Rechtshoogeschool, pada akhir 1949 Poppy mendaftar ke Universitas Leiden di Belanda dan meraih gelar meester in de rechten pada 1950. Setelah itu, Poppy terbang ke Inggris untuk bersekolah di London School of Economics.

Setelah menyelesaikan studinya, Poppy dan Sjahrir sepakat untuk menikah dan bermulan madu di Mesir. Latar belakang pendidikan Poppy yang tinggi menjadikan pribadinya intelektual kritis yang menjadi teman diskusi Sjahrir. Bahkan setelah ditinggal Sjahrir, Poppy selalu mengenang saat-saat mereka menjadi pasangan kekasih.

“Kami sering berkencan atau menghabiskan waktu bersama dengan pembahasan topik berbau pengetahuan. Saya rindu kekasih intelektual saya,” ungkap Poppy saat mengenang Sjahrir dalam ‘Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, Jilid 5 – Sang Pelopor: Tokoh-Tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa’ karya Rosihan Anwar.

Nah, jika dulu perempuan dalam keluarga saya suka meniru gaya potongan rambut Putri Diana atau para perempuan di dunia meniru gaya para ibu negara atau istri pejabat, kenapa tidak meneladani sosok istri-istri pejabat Indonesia pada masa lalu seperti Fatma, Yuke, dan Poppy?

  • denias

    Inspiratif, mbak Ipat…bisa ditiru kalau kita jadi istripecabat ^^