3 Materi untuk Uji Kelayakan THR alias Teman Hari Raya

3 Materi untuk Uji Kelayakan THR alias Teman Hari Raya

thegrosvenorcentre.co.uk

Kakek nenek saya nggak pernah pacaran. Bukan karena dilarang agama, tapi karena tahun 1930-an masih musim dijodohkan orang tua. Hasilnya?

Mereka memang setia seranjang sampai akhir hayat, selain juga berhasil naik kelas secara ekonomi. Tapi ya, nggak bisa dibilang mesra juga. Bertengkar, nyaris tiap hari. Ehm…

Sebenarnya mau pacaran dulu atau langsung kawin sama-sama nggak menjamin bakal happy ever after. Buktinya angka perceraian saat ini berkali-kali lipat lebih banyak daripada 50 tahun lalu. Setiap hari setidaknya terjadi 959 kasus perceraian atau 40 perceraian per jam!

Kalau ditotal, jumlah perceraian di Indonesia rata-rata sekitar 350 ribu per tahun. Jumlahnya bahkan melampaui populasi penduduk Islandia yang sebanyak 331,7 ribu, tapi tim sepak bolanya mampu bikin kejutan di Piala Eropa.

Data statistik bisa saja menipu, karena dulu banyak orang bertahan nggak minta cerai lantaran alasan ekonomi atau survival zaman perang. Bukan karena cinta. Saya sendiri lebih mendukung pacaran dulu, karena saya termasuk cewek nyentrik yang kadang suka gemez. Suami saya haruslah sangat pengertian dan lebih banyak mengalah. #uhuk

Nah, buat kamu-kamu yang juga pro-pacaran, musim kelar sidang skripsi dan Lebaran ini adalah momen yang krusial buat melangkah lebih maju: memperkenalkan pacarmu ke keluarga besar!

Tapi kamu harus sudah yakin kalau doi adalah calon suami/istri yang pas-pasan di hati. Masa iya sudah dikenalin, eh 3 bulan kemudian putus? Lalu jadi jomblo lagi dan teruslah begitu sampai orang yang bertanya kapan nikah dipatok tarif setinggi langit sama negara.

Sebagai orang yang sudah berumah tangga beberapa bulan – 114 bulan tepatnya – dan punya pengalaman dengan sebaris mantan yang semoga tidak sakit hati, ehm, saya akan berbagi beberapa materi untuk uji kelayakan pacarmu sebelum membawanya ke acara keluarga saat Lebaran:

1. Ujian bete dan kesedihan

Apa yang dilakukan pacarmu kalau lagi sedih atau bete?

– Nonton film komedi (+1)

– Lari di treadmill (+2)

– Naik sepeda Jakarta-Cianjur PP (+3)

– Makan bakso super pedas (netral)

– Nulis status dramatis di medsos, sehingga seisi dunia tahu (-1)

Shopping (-2)

– Mengurung diri di kamar dan nggak mau angkat telepon (-3)

– Nangis seharian dan teriak-teriak di atas bukit ((tanda bahaya))

Itu contoh pemberian poin ujian. Poinnya plus atau minus berapa sebetulnya tergantung sikon, nggak kaku juga. Misalnya, kalau kamu Indraguna Sutowo dan ketika itu pacarmu Dian Sastro lagi bete terus mendadak pergi shopping ke Paris, ya poinnya nggak -2. Malah +5.

Sebaliknya, kalau tokoh Cinta di AADC itu nangis sambil teriak-teriak di atas bukit, belum tentu tanda bahaya. Malah dramatis romantis dengan backsound lagu syahdu dan bisa bikin tambah lengket sambil meluk dari belakang kayak adegan Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet di kapal Titanic.

Intinya kamu harus mengalami titik terendah si doi, dan harus tahu bagaimana cara mengeluarkan pasanganmu itu dari jurang kesedihan. Apa? Pasanganmu nggak pernah sedih? Bisa jadi karena doi adalah orang paling ceria sedunia. Tapi kemungkinan besar doi adalah tipe yang menyangkal dan memendam kesedihan.

Hati-hati, jika dipendam lama tanpa solusi, bisa-bisa makan hati. Mungkin kamu butuh banyak formalin supaya hubungan tetap awet. Kalau tidak, hatimu yang patah. Tapi bagaimana kalau doi sering sedih karena kamu? Sudahi saja sampai di sini. Hadeuh…

2. Ujian kemarahan dan bertengkar

Marah itu sebuah keniscayaan. Apakah pacarmu seperti malaikat? Berbulan-bulan pacaran belum pernah marah sama sekali? Terus tahu-tahu doi minta putus dengan alasan nggak jelas dan kamu terpuruk menangis sekian lama sampai air matamu bisa untuk menguras seluruh akuarium di Sea World? Waspadalah! Waspadalah!

Sangat penting untuk mengetahui apa saja yang membuat dia murka. Apakah hal-hal yang menurutmu sepele sering bikin doi ngambek? Gawat. Bisa jadi kamu yang keterlaluan atau pacarmu yang kelewat sensitif. Cobalah bernegosiasi.

Kalau tetep ngotot dan hasilnya deadlock, tempuh mekanisme voting. Kalau tetep buntu karena yang vote cuma berdua, kasih hak suara kepada orang ketiga. Niscaya kalian akan bubarrr… (sambil nyanyi lagunya Dewa 19 – Aku Cinta Kau dan Dia). #AliranSesat

Balik lagi soal ujian kemarahan. Sebenarnya apa sih yang doi lakukan ketika marah? Sama dengan poin ujian kesedihan, apakah dia melakukan hal-hal yang destruktif kepada orang lain atau dirinya sendiri (atau juga kepada binatang dan barang-barang di sekitarnya)? Karena bertengkar sampai tembak-tembakan tapi malah jadi makin hot hanya milik Mr and Mrs Smith. Itupun cuma di film.

Alasan-alasan kemarahan yang kurang relevan seringkali menyembunyikan gunung masalah dan insecurities yang lebih besar. Ce ilee… Bisa jadi luka kronis karena ulahmu pada masa lalu, bisa juga luka akibat mantan, atau bahkan luka menahun berupa kekecewaan terhadap orang tuanya. Penting untuk digali, tapi jangan panggil tukang galian karena sudah pada mudik semuanya.

Bagaimana kalau pacarmu sering marah nggak jelas? Tiba-tiba teriak, “Main hape aja terus!” Padahal kamu baru pegang 5 menit. Itupun ngabarin orang tua kira-kira jam berapa kalian akan pulang. Ya kalau itu salahmu, makanya jangan coba-coba nge-like apalagi kasih love foto mantanmu di Facebook, Path, atau Instagram. #uhuk

Kemarahan adalah salah satu emosi dengan energi yang paling besar. Seringkali dimulai dengan kesedihan yang menumpuk, lalu meletus menjadi amarah. Kesedihan merongrong hati, tapi kemarahan? Bisa memicu revolusi!

Ketika kalian bertengkar, apakah kalian berusaha mencari titik tengah atau selalu ada satu pihak yang mengalah? Itu fondasi utama. Apakah doi mengungkit-ungkit rentetan peristiwa lama yang bahkan kamu tidak ingat? Itu tanda bahaya.

Berarti selama ini kalian hanya mengubur masalah. Bayangkan jika kalian menikah, dan rumah tangga kalian hanyalah kuburan massal masalah? Pasti lebih horor dari Conjuring 2. Yang ada kata talak, bukan Valak.

3. Ujian kebosanan

Titik jenuh pastilah hadir dalam hubungan percintaan. Mesra selamanya itu hanya ada dalam dongeng. Tak peduli doi se-cantik, se-ganteng, se-tajir, atau se-bohay apa, pasti kamu akan bosan. Tapi kalian harus mengalami titik ini, untuk melihat apakah hubungan itu bisa di-refresh atau shut down sekalian. Kebosanan akut adalah akar dari pertengkaran yang sepele, tapi nyelekit.

Cara me-refresh hubungan ada dua. Pertama, ambil waktu saling berjauhan. Semi-semi LDR gitu. Long distance relationship, bukan long distance reladikibulinship. Contohnya, pergi mancing seminggu sama teman-temanmu ke luar kota supaya jangan mancing-mancing kerusuhan terus.

Yang kedua adalah sebaliknya. Ambil waktu dimana kalian bisa lebih intens berdua untuk melakukan tantangan yang memicu adrenalin. Bisa terjun payung bareng agar cinta kalian nggak terjun bebas.

Jadi bagaimana? Apakah THR alias Teman Hari Raya-mu sudah lulus semua uji kelayakan di atas? Bagus. Setelah itu tinggal mempertimbangkan hal-hal yang lebih realistis. Apakah dia layak secara pekerjaan? Kalaupun bisnis, terang atau gelap? Atau, setengah gelap setengah terang alias remang-remang? Pokoknya segala pertimbangan yang bersifat keduniawian. #Tetep

Kalau sudah oke semua, gandenglah tangan Teman Hari Raya (THR)-mu ke acara keluarga saat Lebaran, dengan perut dada membusung dan wajah sumringah. Tapi bagaimana kalau sampai sekarang belum punya THR, padahal Tunjangan Hari Raya – sama-sama THR – di atas Rp 10 juta? Ya gubrag ajalah, mblo…