3 Film yang Harus Ditonton Ahok. Salah Satunya Conjuring 2

3 Film yang Harus Ditonton Ahok. Salah Satunya Conjuring 2

Warner Bros

Pilkada DKI Jakarta memang baru tahun depan, tapi riuhnya semakin ramai belakangan ini. Siapa yang tak tergiur jadi gubernur di Ibukota? Jabatan tersohor “setara menteri” dengan segala fasilitasnya? Memimpin kota dengan APBD Rp 67 triliun atau terbesar di negeri ini? Diajak selfie sama Dian Sastro?

Beberapa bakal cagub dan cawagub bahkan sudah kebelet. Saya tak akan singgung lagi nama balon yang ditangkap KPK atau pentolan grup musik yang kecentilan atau om-om penggemar Mickey Mouse yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Perhatian saya sedang tertuju kepada Sandiaga Uno. Bukan apa-apa, wajahnya mirip Javier Zanetti, pesepakbola asal Argentina yang jadi legenda di Inter Milan. Cuma itu saja sih, tidak lebih.

Lalu, bagaimana dengan gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang katanya bakal menjadi kandidat terkuat? Sudah terkumpul 1.024.632 KTP ya untuk bekal Ahok maju sebagai calon independen. Wah, sepertinya bakal ada politikus Gerindra yang terjun bebas dari puncak Monas. Bagaimana pak Habiburokhman?

Angka 1.024.632 hingga Minggu (19/6) itu tentu tidak sedikit. Anggaplah yang akan memilih Ahok segitu dan jumlah suara sah pemilih di Jakarta sebanyak 4.537.227 (Pemilu 2014). Itu kan berarti minimal Ahok sudah mengantongi 22,5% suara. Kita lihat PDI-P pada Pemilu 2014 dapat berapa persen? Ya sekitar 27% atau menempati posisi pertama. Di posisi kedua ditempati Gerindra dengan 13% suara.

Tapi pak Ahok dan Teman Ahok jangan senang dulu. Satu juta KTP itu harus diverifikasi. Belum lagi godaan dari beberapa partai politik yang kesemsem lihat satu juta KTP tersebut. Kemenangan seolah sudah ada di depan mata. Jauh sebelumnya, Partai Nasdem sudah bergabung dengan Ahok. Belakangan, Golkar juga ikut nimbrung. PDI-P sendiri tampaknya malu-malu tapi mau.

Friksi itu memunculkan kembali perdebatan soal jalur mana yang paling efektif bagi Ahok. Tetap pede sebagai calon independen atau diusung partai? Karena kita bermukim di negara yang katanya demokratis (kata siapa?), saya melalui Voxpop ini ingin kasih saran. Tapi jangan bayangkan saran saya ini seberat para pengamat politik. Saran saya saran selow.

Jika pak Ahok lagi santai, monggo pak nonton dulu beberapa film yang mungkin bisa berpengaruh pada keputusan bapak nantinya, kira-kira paling pas maju lewat jalur mana. Aktris sekelas Audrey Hepburn saja mengakui bahwa film adalah penyampai pesan terselubung yang bisa saja sangat bermanfaat. Tapi ingat, artikel ini mengandung spoiler, meski tak semua film yang saya ulas adalah film yang baru rilis. Film-film itu sebagai berikut:

1. The Conjuring 2

Lho apa hubungannya dengan Ahok? Wong itu cuma film sepasang pasutri yang ngejar dedemit mirip Marilyn Manson versi syariah sampai ke Inggris sana. Tapi memang ada scene dimana Ed dan Lorainne mulai hilang kepercayaan dan mudah terprovokasi. Di situlah kesalahan terbesar mereka dengan mengikuti kehendak mayoritas, yang ternyata salah dan tak berpendirian. Itu adalah pesan yang coba dicandrakan oleh film ini dan mungkin berguna bagi Ahok.

Banyaknya parpol yang ingin mendukung Ahok jelas membuatnya bingung. Siapa yang tak ingin menaiki mobil mewah menuju kekuasaan coba? Tapi Ahok pernah berujar sendiri bahwa masyarakat sudah mulai hilang kepercayaan kepada partai politik, yang disebabkan banyak faktor seperti konflik internal hingga korupsi. Dalam konteks ini, maju bersama partai bisa jadi keputusan yang salah dan berakibat buruk.

2. American History X

Sosok Ahok yang saya tangkap adalah sosok yang berpendirian teguh, meski kadang terlalu banyak ngomel yang tak perlu. Biasanya, individu seperti itu patuh kepada ideologi yang dianut. Berbicara mengenai ideologi, saya punya salah satu film bagus yang sangat berguna bagi Ahok untuk mengambil keputusan. Film itu adalah American History X.

American History X bercerita tentang kakak beradik penggila Adolf Hitler yang ingin membangkitkan Neo Nazi di Amerika Serikat. Mereka membenci ras negroid di negara plural tersebut. Kebencian itu pula yang menghantarkan ia mendekam di balik jeruji besi, karena membunuh dua negro yang ingin mencuri mobilnya.

Di penjara, justru ia yang dianggap negro, karena kalah superioritas jumlah, memaksanya untuk berbaur dengan kaum yang dibencinya. Dari situlah, ia mendapatkan pencerahan tentang arti perbedaan dan perdamaian, sampai suatu ketika ia keluar dari penjara dan mendapati adiknya menduplikasi jejaknya.

Bosan menjadi manusia rasialis membuat ia sedikit melunak. Meski demikian, kebencian terhadap ras negro sudah tak bisa ditolerir dan adiknya yang menjadi korban. Pelajaran yang dapat diambil dari film tersebut adalah jangan bermain-main dengan ideologi.

Ahok juga harus belajar dari ini, ketika tak ada parpol yang mampu mewakili kepentingan ideologisnya, maka sudah barang tentu harus mencari inisatif lain semisal jalur independen yang ditawarkan Teman Ahok. Hal ini diamini oleh salah satu politisi yang sempat saya wawancarai ketika menyusun skripsi. Beliau mengatakan bahwa parpol masa kini orientasinya tidak lagi kepada ideologi tapi sudah pragmatis.

Ini politisi lho yang bilang, yang tahu seluk beluk politik nasional. Kontradiksi sekali dengan Pemilu 1955. Saran saya, kalau tak ada lagi yang bisa mewakili ideologi, maju via jalur independen bukan sesuatu yang haram. Tapi 100% halal!

3. Into the Wild

Film ini berkisah tentang seorang pemuda yang ingin lepas dari kepenatan hidup dengan cara mengasingkan diri pergi ke Alaska. Film ini jangan dipandang sebagai luapan emosi pemuda penggila kebebasan dan egoisme mendalam dengan mengorbankan orang terkasihnya.

Film ini setidaknya mengajarkan kita untuk bersikap humanis dan saling asih asuh terhadap sesama. Interaksi sosial dan komunitas adalah rekaan apik film ini dalam menunjukkan sisi humanisnya. Ini sangat berguna bagi Ahok. Dan, sebagai seorang etnis Tionghoa, tentu Ahok hafal betul dengan kedudukan humanisme dan ideologi dalam falsafah hidupnya.